30 Juli 2012

Orang Tua Pungut

Manusia memang saling melengkapi, ada orang yang walaupun tidak mampu jadi orang tua tapi enak-enakan ngeseks sampai menghasilkan banyak anak. Di sisi lain ada juga yang tidak bisa (atau tak ingin) melahirkan anak sendiri tapi suka jadi orang tua asuh/wali/pungut.

Eh, orang tua pungut? Yang ada itu anak pungut. Nemu, kelihatan menarik, pungut.

Iya, sinis banget, kedengaran seperti merendahkan aksi 'adopsi'. Padahal menjadi orang tua asuh yang memungut anak atau orang tua wali yang membiayai pendidikan anak orang itu mulia banget. Anak manusia yang berprestasi jadi punya harapan untuk mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.

Yang tidak berprestasi? Ya, siapa sih yang ingin melakukan investasi yang buruk?

Ini bukan sedang menentang usaha mulia. Adopsi, asuh, wali itu tentu sangat mulia. Hanya saja saya rasa si anak pungut harus paham latar belakang kenapa dirinya bernasib begitu, minimal selalu penasaran akan beberapa hal seperti ini:
  • Kenapa orang tua aslinya nekat punya banyak sekali anak padahal melarat lahir (maupun batin)?
  • Kenapa bukan negara yang memelihara dirinya sebagaimana dijanjikan UUD?
  • Kompetensi seperti apakah yang dibutuhkan untuk jadi orang tua? Adakah usaha ke arah situ terlihat dari prilaku orang-orang disekitarnya yang mengaku orang tua?
  • Bagaimana cara menghasilkan anak manusia yang oke lahir batin?
  • Bagaimana agar anak-anak senasib atau yang nasibnya lebih buruk tidak terus diproduksi oleh orang-orang inkompeten yang doyan ngeseks tanpa tanggung jawab?
  • Kenapa dirinya terpilih untuk diadopsi, kenapa bukan anak yang lain?
  • Poin-poin apa saja yang membuat dirinya tampak lebih berharga di mata masyarakat dibanding anak sial yang lain?
  • dan hal-hal lain yang jawabannya mungkin saja berubah atau semakin dalam sejalan dengan waktu

INKOMPETENSI: Ketika kamu yakin bahwa kurangnya keahlian
dapat diganti dengan melipatgandakan tenaga.

Ya tidak semua anak pungut berasal dari orang tua yang inkompeten, juga tidak semua orang tua asuh pasti lebih baik dari orang tua asli.

Saya juga sudah bertemu sendiri dengan anak pungut yang diadopsi sampai sukses dan akhirnya sibuk cari duit tanpa pernah merasa cukup, suka main lelaki, kawin cerai dan menelantarkan anak. Ada juga yang diadopsi oleh orang tua yang hobi marahnya seperti orang sakit jiwa, jadi walaupun uang berlimpah tapi pikiran si anak pungut jadi rusak parah dan tumbuh jadi orang yang cuma dipermukaannya saja kelihatan waras... padahal orangnya cantik banget. Tapi kalau anak yang akhirnya jadi teroris (teroris konvensional, bukan teroris asmara) saya belum ketemu, hehe.

Ah, sebaiknya jangan berhenti bertanya, jangan mudah mengambil kesimpulan, apalagi berpegang pada jawaban muncul dari trauma. Apasih.

Eh, Anda orang tua pungut? atau anak wali? Hehe... Monggo cmiiw.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar