11 Mei 2015

Curhat Tepi Hutan

Dua orang petani duduk kelelahan di tepi hutan, yang satu mulai melempar keluhan.

Ga imbang yo mas, capek-capek tapi sekilonya untuk beli beras aja kurang.

Haha, salam gigit jari, ayo hujat si Jokowi.

Ojo nyindir mas, tak pacul lho.

Halah, sampeyan biasane paling semangat nyalahke si cungkring. Bensin entek nganti aki tekor yo mesti salahe Jokuwi. Saben hari kok salame gigit jari, wong sak kampung nganti entek jrijine mas.

Mbok ojo ngono mas, iku lak mung katarsis. Wani dadi presiden yo mesti siap dihujat pakai logika seadanya macam kita ini. Tapi kali ini saya serius mikir solusi, bukan cuma maki Jokowi.

Hahah, tenane...? Ngapusi! 

Serius ini Mas. Di dunia ini dah terlalu banyak yang produksi. Lha negara-negara yang biasa borong malah kurang semangat. Yo ra ono rego.

Yaelah masbro, bocah alay korban krim pemutih juga ngerti kalau terlalu banyak penawaran dibanding permintaan, harga pasti tertekan, murahnya bikin marah. Emangnya di batok kepala sampeyan ada solusi apa?

Solusinya, kita mesti ekspor agamawan ke negara-negara yang jadi kompetitor kita.

Kurang tidur mas? Untungnya apa?

Gini, biar saya jelaskan. Sampeyan ingat kan, bagaimana Malaysia pernah ngirimi kita agamawan yang memicu terror dan kerusakan luar biasa? Kita pakai strategi itu untuk menekan produktivitas negara-negara kompetitor.

Hmmm.... Ini maksudnya semacam sabotase gitu?

Iya. Sekarang kita balas, kita kirimi mereka dengan agamawan-agamawan yang fasih berdakwah pecah belah dan mengadudomba umat. Kita kirim juga ke Vietnam, India, Thailand, Malaysia dan pokoke semua kompetitor kita. Biar rakyat mereka sibuk bermusuhan antar agama, kalau bisa antar sekte dalam satu agama juga dibuat bunuh-bunuhan. Apapun caranya yang penting bikin mereka sibuk memperjuangkan iman sampai berdarah-darah.

Woooh, saya ngerti. Terus kita susupi birokrasi mereka supaya bikin aturan aneh-aneh bau agama biar rakyat sibuk nggak jelas, di kalangan menengahngehek kita hisap uang pakai tahayul-tahayul agamapreneur, terus di kalangan jelata kita bakari semangat berjuang melawan pemerintah kafir, bom bunuh diri untuk mendirikan negara agama. Keributannya pasti berdarah-darah tuh.

Naaah, iya, iya gitu maksud saya. Itu kerusuhannya bakal menyunat habis produktivitas mereka, akan tiba saatnya kita jadi produsen terbesar yang maha esa. Semua negara pemborong bakal bergantung pada kita, tanpa adanya kompetitor, kita berkuasa tentukan harga. Nasib petani kita akan lebih baik.

Gemblung. Ide kok kejam begitu. Itu namanya persaingan tidak sehat. Tidak etis! Kalau agen kita banyak yang mati gimana?

Etis? ETIS?!? Sampeyan ini apa tak sadar toh kalau selama ini kita juga dibegitukan oleh banyak negara lain? Pemerintahan kita aja yang dungu, intelijennya impoten. Diserang bukannya melawan atau minimal bertahan, malahan bergabung sama penyerang untuk menghisap rakyat. Ya kalau banyak yang mati terus kenapa? Toh mereka yakin kalau mati memperjuangkan agama bakal masuk surga. Semua senang, semua menang.

Hmmm... Anggap saja ide sampeyan masuk akal. Terus piye implementasine? Sapa yang mesti menjalankan dan modali kirim-kirim saboteur?

Ya pemerintah dong, lewat intelijen atau apa kek. Mereka kan sudah punya data, siapa saja agamawan kita yang terbukti jago berdakwah untuk membangkitkan kebencian dan kemarahan. Itu semua direkrut saja, dikasih skill intelijen secukupnya, lalu segera dikirim ke negara-negara lawan untuk menghancurkan mereka dari dalam.

Saya kok masih merasa ini nggak etis ya?

Jiaaan... Ini sudah tentang survival, Mas! Tentang masa depan rakyat kita! Sampeyan masih ublekutek ngurus etika? Masak sampeyan pengen etis terhadap negara-negara yang terbukti pernah ngirimi kita pencetak teroris dan membunuh banyak sekali rakyat kita? Sampeyan lebih mbelani musuh, mestinya pantes dicap penghianat bangsa.

Aih, aih... ojo ngono mas. Apa ndak solusi selain sabotase?

Ya ada, misalnya meningkatkan daya serap pasar dengan bikin pabrik pengolahan biar mampu olah sampai barang jadi. Tapi kalau kompetitor terus dibiarkan meningkatkan produksi, ya... bikin sampai puluhan pabrik ga bakalan memperbaiki harga di level petani. Yang untung cuma konglomerat pemilik pabrek. Bagaimanapun kita mesti memanfaatkan dakwah sebagai senjata untuk menyerang balik. Sampai kapan cuma kita saja yang diserang terus, balas lah, pakai senjata yang sama.

Iya ya.... menarik juga idenya. Tumben. Saya pamit ya mas, mau ke gudang duluan.

Monggo.

03 April 2015

Merasa Diawasi

Beberapa hari ini saya sulit sekali mengakses Facebook. Anehnya satu situs itu saja, yang lain tidak. Sudah gonta-ganti browser pakai Firefox, Chromium, Google Chrome, Opera, UC Browser sampai Dolphin, baik di PC maupun di Android hasilnya sama. Loadingnya lelet amit-amit. Kegiatan adu ego diskusi tak bermutu jadi sangat terganggu.

Saking lamanya menunggu laman tampil, saya bisa sampai ketiduran, atau lebih parah: distracted dan mengerjakan kegiatan lain yang lebih bermanfaat!

Setelah dua hari tak ada perbaikan, prasangka buruk saya langsung mengarah pada koneksi. Mungkin saya korban throttling atau filtering?

Ternyata memang fesbukan kembali lancar jika koneksi tidak langsung menuju Facebook, tapi memutar mengendap-endap dulu lewat Hongkong. Ada apa ini ada apa? Saya diawasi? Jadi sekarang Facebook selevel dengan situs mesum hingga saya wajib foreplay dulu setiap ingin masuk?

Ga masalah juga sih, mungkin malah bagus.

Cerita belum selesai, ada satu keanehan lagi...

Kemarin, belum lewat satu hari berlalu sejak saya mengeluhkan soal Mi 3W yang gagal dicek keasliannya. Siang tadi, disebabkan sesuatu yang saya tidak perlu ceritakan, saya tergerak untuk mencoba cek lagi keaslian handphone tersebut dan hasilnya persis yang Anda duga:

Asli! Hasil uji di https://jd.mi.com/ 
Handphone jadi asli!!!!!!! Yap, layak diberi tujuh tanda seru. Karena asalnya ini barang unverified, alias tidak asli sejak Oktober 2014. Kenapa sekian bulan setelahnya, hanya satu hari sejak dikeluhkan langsung berubah jadi asli banget?

Dua kebetulan yang aneh dan berturut-turut ini lumayan berhasil membuat saya merasa diawasi, haha.

Terima kasih yaa ;) Siapapun dan apapun Anda, semoga kebahagiaan, kesehatan dan penghasilan sampeyan naik 2x lipat dan terus meningkat setiap bulan. *ngomong ke webcam yang tampaknya mati*

Ahem...

Tentu ada banyak kemungkinan yang kalau diselidiki bisa saja membatalkan rasa ge'er saya. Tapi saya memilih berhenti di tahap ini aja lah. Jangan terlalu kritis kalau urusan senang-senang, kapan lagi narsis seaneh ini, mwahaha.

02 April 2015

Pengalaman pakai Xiaomi Mi 3W: Puas

Sudah sejak 31 oktober 2014  saya beralih ke Xiaomi Mi 3W dari Fonepad ME371MG. Berapa bulan tuh sampai sekarang? Nah, iya segituan lah.

Saya memang janji untuk segera review pada seseorang yang darinya saya mendapatkan Xiaomi ini, tapi tak kunjung terlaksana karena berbagai alasan, diantaranya adalah +Hugo Barra yang tidak tepat dalam janjinya melepas kernel. Barusan saja dia berubah pikiran dan akhirnya rela membuka kode yang sudah tidak ditunggu lagi oleh banyak pengguna Xiaomi seri ini.

Ok, tak usah banyak alasan lagi, langsung saja pengalaman pakai ini.



1. Cina banget

Mungkin ini disebabkan karena yang saya pakai ini bukan versi resmi Indonesia, jadi banyak aplikasi bawaan yang masih pakai tulisan Cina. Bahkan app market, sampai urusan ganti theme pun dipaksa masuk ke halaman yang penuh tulisan Cina. Perlu semalaman begadang hanya untuk berhasil install google play store -_-

Untuk mengenyahkan bloatware sampah itu perlu ngeroot. Tapi walau root tidak menghanguskan garansi Xiaomi, rasanya tanggung jika tanpa sekalian ngoprek, padahal ngoprek itu hal yang sangat sulit dilakukan kalau kodenya saja baru dilepas kemarin.

Iya iya, ini saya cuma bergaya saja sok techy, sebenarnya setelah kode diumbar pun saya tidak tahu caranya memanfaatkan kernel itu, huhu. Tapi keren kan? eits, ga boleh main pentung.

Akhirnya setelah sekian bulan menggunakan jadi terbiasa juga pakai interface MIUI. Masukkan saja semua aplikasi sampahnya itu dalam folder bernama junk dan ganti pakai app versi internasional dari google play store. Walau belum mengenyahkan bloatware, CPU quad corenya memang kuat, jadi operasi tetap ringan dan responsif.

2. Tapi tidak secina hape Cina biasa

Kalau kamu pernah pakai hape Cina biasa, pasti kamu tahu dong deritanya bagaimana. Baterai boros gajelas lah, layar ngeblur lah, GPS ga bisa ngelock lah (khas kutukan MTK), susah konek internet lah, konektor usb goyang lah, RAM kekecilan lah, dsb yang membuat kita menyesal lahir batin dunia akhirat sudah buang duit untuk hape yang walaupun punya core quad atau octa tapi kinerja nista luar biasa.

Semua kutukan itu ga bakalan menimpa kamu kalau pilih Mi 3W ini. Layar IPS dilindungi Corning Gorilla Glass 3, tak perlu lagi pelindung layar yang bikin hape buram dan murahan. Konektor USB lulung, eh, charging maupun jack earphone kencang selalu perawan ga pake goyang. GPS sensitif Glonass pula, numpang mobil yang ribennya agak mahal tetap bisa lock akurasi 10-5 meteran.

Baterai juga besar, jadi misal GPS betulan khusus mobil itu bisa tahan 2 jam, pakai Mi 3W malah bisa waze-an jauh lebih lama dari itu, kalau tak salah selama perjalanan Jkt-Indramayu pp lah, dan itu juga sambil streaming lagu via bluetooth ke tape mobil. Memori 2 GB-nya bisa untuk multitask macam-macam, misal untuk membacakan buku keras-keras, sambil navigasi menunjukkan jalan, sambil sesekali diganggu chatting, sekaligus tanpa ada app yang harus terbunuh. Koneksi internet untuk browsing langsung dari hp atau sebagai hotspot wifi maupun modem usb semua lancar.

Spesifikasi benar-benar nayamul, rasanya tak kalah dan malah lebih berfungsi dan lebih responsif dibanding hape punya saudara yang harga belinya 7 jutaan. Dan yang mengagetkan ke-udik-kan saya adalah sensor NFC, ternyata ini HP ini bagian punggungnya bisa dipakai untuk baca e-ktp sampai refill e-money.

3. Tapi ukurannya agak kegedean

Untuk yang sering pakai celana jeans ngepas macam saya, ukuran MI 3W ini cukup meresahkan. Dikantongi di kantong pantat, takut kedudukan lalu bengkok macam Iphone 6. Dikantongi di jaket, takut jatuh pas naik motor. Dikantongi di saku depan, kaki sulit ditekuk.

Solusi: Pakai celana cargo yang lebih longgar. Selain lebih sehat untuk testis, Xiaomi pun bisa dikantongi. Atau bawa tas, itu lebih aman, tubuh akan jadi lebih jauh dari sumber radiasi seluler.

4. Daya tahan

Desain memang bukan grade militer, tapi yang saya pakai ini sudah jatuh beberapa kali sampai peot sedikit di keempat sudutnya, namun masih berfungsi 100%. Oh iya itu, desainnya memang licin, kalau tangan kuli tak biasa pegang barang cantik, sebaiknya pakai kondom saja yang anti selip, atau sekalian rantai ke leher.

5. Keaslian sempat meresahkan

Konon, seri ini banyak palsunya. Punya saya ini tidak lolos aplikasi uji keaslian, tapi uji performa, spesifikasi dan cek kelengkapan sensor pakai aplikasi sembarang kok menunjukkan lengkap dan setara seperti aslinya. Jadi? Ya putuskan saja bahwa ini produk asli dan app uji keaslian itu saja yang buggy, biar tentram. Ya memang kalau mau beli apapun, pastikan dari tempat resmi dan terjamin.
UPDATE: Sudah dites lagi, ternyata ASLI!


Daaah, sementara itu dulu. Penampilan lebih lengkap bisa cek di situs Mi 3W.

Dengan ini janji saya lunas ya, selunas janjinya Om Hugo. Hehe.

02 November 2014

Mental Budak Pembayar Pajak

Yang sedang dibicarakan adalah para pembayar pajak di Samsat Cibinong. Menurut saya mereka kebanyakan bermental budak. Budak yang terbiasa menunduk-nunduk hormat pada para ndoro birokrat, pasrah nungging memuaskan syahwat para pegawai samsat.

Ini hasil pengamatan saya terhadap warga kabupaten Bogor yang berusaha membayar sendiri pajak kendaraan bermotor, beberapa minggu lalu:

1. Waktu masuk loket pendaftaran mau bayar pajak, rakyat akan ditanya "Mana mapnya?", lalu si rakyat jelata akan menurut saja diarahkan membeli ke fotokopian terdekat. Nanti setelah map itu diserahkan dengan hormat kepada si bapak penjaga loket, KTP dan STNK akan dijepret diluar map. DILUAR MAP! Kenapa harus map kalau fungsinya cuma buat njepret KTP dan STNK? Bukankah sehelai kertas pun bisa? Atau akan lebih irit jika pakai lembar plastik berpenjepit apa kek yang tahan dipakai berjuta kali. Tapi budak jelata, tidak tidak akan berani usil berpikir sampai ke situ. Pilih manut.

2. Dari loket pendaftaran, pembayar pajak dilempar ke loket pemeriksaan berkas. Di sini dia akan dibentak oleh petugas kampret: "ITU DIISI DULU!!" sambil menunjuk sehelai kertas putih yang dijepret di map. Jika Anda yang dibegitukan, mungkin akan balik bentak "Hei muka babi, kamu saja yang tulis! Tua bangka pemalas di loket pendaftaran memang kasih ini dalam keadaan kosong, sekarang kau bentak aku suruh tulis tanpa sediakan alat tulis pula!?! Saya ini mau bayar pajak bung, bukan mau ikut kuis remedial".  Tapi wajib pajak di Bogor tidak begitu, mental budaknya justru membuat mereka merasa sangat berdosa karena tidak bawa alat tulis waktu bayar pajak. Lalu dengan panik berusaha meminjam ke pengunjung yang lain, kalau punya duit ya kembali ke warung tadi untuk beli. Lalu dengan menunduk patuh kertas itu diisi sendiri supaya ndoro petugas tinggal tanda tangan layaknya boss besar. lalu merobeknya dan menyerahkan robekan itu untuk pegangan si budak sebagai bukti dia bagian dari pengantre. ROBEKAN.

3. Dari loket pemeriksaan berkas, para budak disuruh menunggu sambil diasapi rokok yang entah asalnya dari mana. Saya lihat para pengunjung tidak ada satupun yang merokok. Mungkin asap itu berasal dari para ndoro terhormat yang klepas-klepus di dalam loket. Para budak tidak ada yang mengeluh, dan memang tidak perlu, karena toh sehari-harinya sudah biasa diasapi oleh budak perusahaan rokok di halte bahkan dalam angkot.

4. Setelah beberapa menit menunggu, lalu dipanggil petugas di loket kasir, setiap kali panggil sekaligus sepuluhan orang sehingga terbentuk kerumunan budak di depan loket yang mengganggu lalu lintas budak-budak berkepentingan lain yang sedang dipingpong antar loket. Nanti setelah membayar sambil menunjukkan robekan kertas, dapat bukti pembayaran beserta kembalian yang selalu dibulatkan ke atas. Kalau kembalian dibawah seribu rupiah tidak akan dikembalikan. Anehnya para budak yang jadi korban korupsi justru membela pelaku dengan "Alah, ndak papa, kan cuma setahun sekali ini, lagian hasilnya tak seberapa kok, korupsi begituan dapatnya tak akan lebih dari 100jt per tahun". Ya namanya juga budak, ditindas malah membela yang menindas.

5. Setelah dipungli, para budak harus menunggu lagi, sambil aroma-terapi tembakau lagi. Bisa sambil melihat budak-budak yang lain dikerjain ndoro-ndoro samsat. Untungnya ada dua TV LCD pengalih perhatian yang menayangkan acara hewan-hewan unik. Cocok banget lah, budak yang sedang diperbudak, duduk manis nonton video hewan.

6. Setelah puas nonton hewan dan proses birokrasi selesai, nanti dipanggil lagi oleh petugas di loket penyerahan. Si petugas akan memanggil dengan gaya serupa, sering suaranya sengaja bertabrakan dengan loket kasir hingga sulit didengar. Tapi para ndoro petugas tak peduli, toh yang dilayani hanya manusia kelas budak yang tak akan mengeluh walau diperlakukan semena-mena. Ndoro petugas yang berkerumun di situ tugasnya ya cuma itu, memanggil dan menyerahkan map.

Jadi setelah proses selesai, budak pembayar pajak akan menerima satu map. Bagian luar map ada KTP dan STNK yang sejak awal dijepret. Di dalam ada selembar bukti tanda bayar pajak. Tidak akan diberi plastik baru, apalagi dirapikan sekalian dalam plastik, hanya ada plastik aslinya yang sekarang sudah semakin rusak kena jepret.

Subhanallah, betapa nrimonya pembayar pajak di Kabupaten Bogor ini. Propertinya dirusak dengan jepretan, diperlakukan tidak hormat, dipungli, tapi tetap senyum sumringah karena karena bisa membayar pajak pada negara. Entah sumringah karena sudah memenuhi kewajiban bayar upeti, atau karena sudah memuaskan syahwat para ndoro petugas Samsat.

Oh iya, diatas itu belum cerita soal bagian pengambilan plat nomor yang dipungut pungli paling sedikit IDR 10.000 lho. Warga Bogor yang antre di situ lebih sinting lagi kadar hormatnya pada ndoro-ndoro petugas di workshop plat nomor. Sudah antrenya dijemur kepanasan, ndak dikasih tempat duduk, masih dipungli minimal 10 ribu untuk motor (mobil entah berapa rupiah).


Entah kenapa negara ini mempekerjakan ndoro-ndoro seperti itu untuk melayani. Bertahun-tahun, gonta-ganti presiden tetap saja dibiarkan begitu.

Untung saja para pembayar pajak di kabupaten Bogor ini memang masih bermental budak, walau dihinadinakan semena-mena begitu tetap pasrah dan nrimo. Kalau di tempat lain mungkin sudah di***** semua itu para ndoro sekalian sama kantornya.

Namanya juga warga kabupaten bogor. Maklum lah.

10 Oktober 2014

Sipil atau Militer, Ada Tapinya

"Dipimpin militer atau sipil?"
"Ya gimanapun pilih sipil lah! Kecuali kalau lawannya radikal Islam, baru gw pilih militer"

Masih begitu terus pendapat banyak orang di banyak forum.

Jadi wajar kalau militer selalu punya hubungan benci tapi cinta dengan kelompok radikal. Wajahnya kelihatan tak akur, tapi sering dicurigai ikut mendanai, membiarkan, atau diam-diam giat melestarikan.

"Usut siapa dibelakangnya, cari tahu siapa yang mendanai!" kata Ahok yang sepertinya yakin betul bahwa Polisi sebenarnya juga sudah tahu.

Mungkin benar, selama ini juga sudah tahu, tapi ya karena itu tadi. Terror dan kekacauan yang ditimbulkan kelompok radikal, memang menguntungkan militer.

Memang berat sekali, kalau kita harus menolak sesuatu yang sangat lezat dan menguntungkan kita. Pasti lebih berat dari menolak keperawanan.



21 Mei 2014

Musuh

Berbagai ketakutan atau keengganan yang terasa setiap kali ingin mengatakan atau melakukan yang benar itu sebabnya apa kalau bukan dalam rangka jualan? Takut dagangan ndak laku.

Yang dijual? Ya harga diri, untuk memuaskan lawan transaksi, demi dapat keuntungan berupa kenyamanan dan keamanan.





Waktu Pak Bos ngajak korup, tak berani bantah karena dapat mengancam keberlangsungan nafkah, mengganggu kelanjutan karir. Waktu Bu Ustajah berisik merem melek pake toa, juga takut protes, karena bisa dimarahi dan dibenci emak-emak sekampung. Waktu ada orang merokok dalam angkot, juga takut untuk memperingatkan, karena bisa mengancam citra kita sebagai jelata tolol yang saling nrimo dan bertoleransi.

Memang sejak kecil kita didoktrin untuk toleran, ramah, jadi bangsa yang ramah dan pengertian pada siapapun.Untuk selalu takut menyinggung perasaan orang. Saking kelewat ramahnya, di salah satu kampung saya di Balaraja sana, guru relijius yang meyodomi beberapa anak kecil cuma diusir, bukan dihukum. Mungkin takut menyinggung perasaan si tukang sodomi, tanpa memikirkan perasaan korban-korbannya :))




Nah, tadi saya baca entah di mana, Ahok kurang lebih bilang gini: "1000 orang teman masih kurang, 1 musuh sudah kebanyakan.... Itu faham para pedagang. Tapi kalau mau membersihkan sistem yang korup, tiap hari kita bisa menciptakan 1000 musuh."


Wah, bener juga ya. Dalam sistem yang busuk, mengusahakan kebenaran pasti mengancam nafkah orang yang hidupnya dari kebusukan. Lha kita saja sering rela jual harga diri demi kenyamanan dan keamanan, apalagi orang-orang yang kebahagiaan hidupnya bergantung pada lestarinya kebusukan? Jadi kalau situ orang bener ya ga usah manja atau sok njawani. Dapet musuh itu niscaya, nikmati aja.

16 Mei 2014

distraction

ketika akhirnya 'sempat' menekan new post dan mulai menulis, ada saja halangan yang muncul.
entah harus keluar sebelum kantor x tutup, entah kucing berisik minta makan, atau telpon masuk dan berini-itu, atau pandangan ke keyboard terhalang kumis yang sudah minta dicukur.

nanti malam sebelum tidur paling lupa mau nulis apa. mungkin malah fesbukan.


ada saja alasan untuk menghindari menulis. seperti sekarang.


kamu juga begitu?

aku pergi dulu.