07 November 2012

Hutang Bisa Membunuh Tetangga


Bayangkan Anda seorang pedagang yang masih pemula, dengan modal sangat terbatas nekat jualan sembako.

Dari tiap transaksi Anda hanya ambil untung 5 ratus Rupiah: Misal jual pulsa modal 10500 dijual 11000. Yang 10 ribu segera diputar lagi untuk restok dan melayani pelanggan lain, sisanya untuk makan dan kalau masih sisa untuk nambah modal.

Nah, Anda punya tetangga bernama si Teguh yang gemar menggunakan alasan takdir supaya boleh belanja tanpa harus bayar cash. Alias ngutang.

Tiap beli kopi harga 11 ribu, bisa seminggu baru bayar. Beli gula harga 15, mungkin setelah sebulan baru bayar. Kalau bayar.

Nah, ketika si Teguh ini berhutang, Anda akan menderita kemacetan aliran uang. Misal dia hutang pulsa, maka modal dagang berkurang sebesar 10500 karena terhenti dalam hutang yang entah kapan bakal dibayar. Tak bisa diputar. Tak menghasilkan.

Andai modal segitu berputar hanya sekali tiap hari (dan menghasilkan profit 500), maka kemacetan 10 hari akan menimbulkan kerugian 5000 Rupiah. Kalau 30 hari jadi... Yup.

Padahal... Dengan alasan agama, jumlah yang dibayar si Teguh nanti tetap sama seperti saat berhutang. Tanpa bunga/riba sedikitpun. Walau sudah bikin macet modal orang, bulan depan si Teguh tetap bayar 11 ribu saja. Itu pun sambil nyerocos dakwah bahaya riba.

Sekilas potensi kerugian tampak mengerikan *serasa bahas kenaikan bbm*. Tapi dibalik itu ada banyak manfaat religius yang akan diraih oleh kedua pihak:

Si Teguh paling dapat untung hanya dua kali. Pertama, mendapat manfaat produk tanpa harus bayar langsung. Kedua, merasa dapat banyak pahala hasil mendakwahkan ajaran tanpa riba pada pedagang kecil nan lugu macam Anda. Mungkin sambil terpingkal-pinkal sehat di dalam hati.

Anda sebagai pedagang bermodal mepet, walau sekilas rugi, tapi sebenarnya mendapat banyak pahala dan janji surga sebagaimana dijanjikan oleh Teguh. Selain itu, Anda juga mendapat kesempatan untuk langsung praktek pelajaran sabar, ikhlas dan pasrah secara gratis, tanpa  harus ikut seminar mahal di hotel mewah. Itu langsung praktek lho! Bayangkan kalau musti ikut seminar dulu, sudah muahal, cuma dapat teori pula. Dan satu lagi yang paling berharga, kalau modal anda jadi terlalu mepet untuk melanjutkan usaha, Anda bisa praktek belajar hutang ke bank/renternir/whatever. Itu skill yang kalau di materi kuliah kewirausahaan cuma seupil bualan yang bikin ketiduran.

Lagi pula, kerugian materi yang disebabkan seekor  Teguh itu segera tertutup dari keuntungan transaksi dengan pelanggan lain. Misal si Teguh ngemplang, malah kabur pindah kontrakan, maka untuk menutup kerugian 10500 itu cuma perlu melakukan 10500/500=21 transaksi saja dan modal yang hilang akan kembali. Dikit banget kan? Andai anda hanya satu transaksi sehari, maka hanya perlu 21 hari. Singkat sekali kan?

Singkat mbah mu.

- - - - - - - - -
Dipersembahkan untuk para Pakar Surga yang kalau hutang suka semoyo... sambil bawa-bawa Tuhan. Sekalian pengantar ekonomi warung, agar jangan terlalu zalim pada warung-warung kecil di sekitar kita. Operator warung itu mungkin terlalu dungu untuk mengerti bahwa business is business dan tak kenal sodara apalagi tetangga, atau mungkin hatinya terlalu lembut dan sungkan menolak proposal hutang kita karena masih tetangga, tapi janganlah itu kita jadikan kesempatan untuk zalim dan menginjak-injak mereka. Kalau mau hutang sana ke yang udah gede saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar