10 Juli 2011

Ya Allah, Tahlilan Itu Menyebalkan

Ya Allah,

Tahukah Kamu apa yang paling menyebalkan dari tahlilan di sini?

Bukan bagaimana keluarga si mati dibebani secara ekonomi untuk menjamu para tetangga selama 7 hari. Bukan. Tradisi memberi berkat dalam kotak dan menjamu peserta tahlil itu memutar roda ekonomi. Penjual makanan dapat profit dan bisa memberi makan keluarganya. Sayang kan jika uang para pelayat hanya disimpan atau dibelanjakan untuk hal-hal yang belum tentu lebih bermanfaat. Lebih baik segera dihabiskan untuk menjamu para tetangga.

Bukan pula doa-doa keras yg repetitif. Sudah rahasia umum bahwa membuat Mu merespon doa sungguh sangatlah sulit. Maka itu kami merasa wajib mengulang dan mengeraskan doa semampu kami. Hanya soal waktu sebelum tradisi ini berevolusi. Tak lama lagi, tradisi ini akan melibatkan amplifier + speaker berkekuatan besar agar doa kami lebih menggelegar, agar singgasanamu di surga ikut tergetar. Tapi  bukan itu yang menyebalkan.

Ya Allah, yang menyebalkan itu rokok. Langsung setelah tahlilan, sambil ngemil dan ngobrol, hampir semua orang menyalakan merokok. Dari 30-an pemekik doa, paling banyak hanya 5 mahluk yang tidak merokok, dan saya salah satunya.

Ini sudah yang kesekian kali saya ikut tahlilan dan menimati jadi perokok pasif nan religius. Terpaksa.

Ya Allah, Kamu pasti ingat, fenomena ini mirip sekali dengan Adzan teramplifikasi yang membuat orang tak berkepentingan harus ikut kaget atau terbangun. Mirip juga dengan prilaku umat dalam bulan puasa yang membuat orang yang tak berkepentingan jadi ikut susah makan. Juga ketika penganut tafsir minoritas diancam-ancam / dianiaya agar patuh pada penganut tafsir mayoritas.

Tahukah Kamu apa miripnya? Disini, non perokok dipaksa menghisap asapnya perokok. Padahal tujuan saya ikut hanyalah untuk doa bersama. Sebuah usaha gotong royong untuk membujukMu agar memberi nasib yang lebih baik pada si mati.

Bisa saja saya pamit keluar (dari ruangan ataupun dari agamanya sekalian), tapi resikonya akan dicap manja, atau bisa juga dianggap kurang ajar tak tau etika, atau malah halal untuk ditumpahkan darahnya (dibantai).

Minoritas selalu ditindas. Mayoritas merasa selalu benar dan semena-mena.

Tapi tenang saja ya Allah, ini bukan doa kok, hanya curhat saja.

Silakan Kamu pikir sendiri apa yang sebaiknya Kamu lakukan, itupun kalau Kamu bisa. Kamu kan Maha Tahu dan Maha Bijak lagi Maha Kuasa. Aku tak sekonyol itu untuk terus memohon-mohon sementara Kamu cuma pura-pura tak mendengar, pura-pura tak bisa melakukan apa-apa hingga akhirnya kami sendiri yang harus mengarang alasan untuk membenarkan kecuekanMu.

Ya Allah, sekian dulu curhat kali ini.

Semoga Kamu tak hanya Maha Mendengar, tapi juga Maha Membaca.

Amin.



Gambar dari Annida, dicrop semena-mena.
Ditulis tak lama setelah mengisi malam minggu dengan tahlilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar