Tampilkan postingan dengan label konsumerisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konsumerisme. Tampilkan semua postingan

15 Agustus 2011

Amal Berisik Terasa Mengusik?

Amal yang berisik itu contohnya seperti ini:
  • Perusahaan tak jelas yang janji akan menyumbang orang melarat jika di-follow di twitter.
  • Para nenek dan kakek beriman yang berdoa menggunakan speaker yang distel keras-keras.
  • Korporat Multi Nasional yang janji membagikan sekian liter air di tempat terpencil, untuk setiap dagangan mereka yang Anda beli.
  • Dan semua prilaku yang serupa, dimana aksi-aksi "menyentuh" dipublikasikan secara berisik untuk kepentingan apapun.
Anda yang merasa terusik dengan prilaku-prilaku tersebut, sebenarnya apa sih yang membuat Anda terusik?
  • Karena agama dan atau tuhan dijual untuk cari penghasilan?
  • Karena orang melarat dijual untuk branding korporat?
  • Karena hal-hal yang anda anggap sakral diobral murah?
  • Karena tidak kebagian?
Ijinkan saya berbagi kesoktahuan sedikit...

Sesungguhnya  dari banyak cara menyikapi gerakan massa, ada tiga yang paling menarik untuk mengusik kita yang sedang terusik oleh para pelaku amal yang berisik:
  1. Ikut terbawa arus. Kebanyakan orang masuk golongan ini. Ikut beribadah karena tradisi, ikut nyoblos asal-asalan, ikut merokok karena pengaruh iklan/pergaulan, ikut takut dan sok kenal tuhan bermodal katanya orang, ikut selera dan trend mayoritas, dll. Semua dilakukan otomatis tanpa kesadaran.
  2. Menyadari adanya arus. Kebanyakan filosof, atheis dan kritikus berada di kelompok ini. Mereka bisa melihat bagaimana orang-orang tanpa pikiran dan tanpa pertanyaan, membuta berjamaah mengikuti apapun yang diinginkan sang gembala. Jika tidak suka dengan arusnya, seringkali golongan ini memutuskan tidak ikut arus lalu nyinyir dari luar gerombolan. 
  3. Mengambil untung dari terjadinya arus. Golongan oportunis ini begitu melihat jamaah bakal kemana, langsung lari mendahului ke arah yang dituju. Kemudian membuka lapak-lapak dagangan di tempat-tempat strategis di sepanjang rute yang bakal dilalui termasuk di tempat tujuan. Kadang tampak seperti bunglon, berganti kostum sesuai dengan segmen pasar yang disasar.
Weits... Walaupun saya ingin ikut-ikutan menghakimi seperti yang dilakukan banyak orang lain, saya tidak mengatakan bahwa Anda termasuk golongan kedua lho.

Dari tiga kelompok diatas, jika kelompok ketiga adalah yang paling beruntung dan kelompok kedua adalah yang paling murung, maka kelompok pertama adalah komoditas.

Walaupun selalu diperjualbelikan, dibodohi dan dieksploitasi semena-mena, kelompok pertama adalah kelompok yang paling berjasa dan paling mulia. Dengan keluguan dan ketulusannya mereka menjadi pondasi bagi terciptanya kemakmuran bagi  banyak orang di dunia. Jika surga memang ada, pastilah tercipta spesial  untuk mereka.

Nah, apakah sudah tampak apa kaitan paparan suci ini dengan judul?

Sebenarnya tidak penting juga soal judul itu. Saya cuma ingin mengajak Anda membebasliarkan pikiran Anda, biarkan dia berloncatan kesana-kemari seperti monyet. Biarkan dia mencari tahu siapa yang mencipta "arus"? Meme apa (dan kenapa) yang berhasil mewabah dan menggerakkan massa? Siapa pula yang membuat kita mensakralkan hal-hal yang kita anggap sakral? Dan siapa yang membuat kita meyakini jawaban yang kita yakini itu?

Dan sempatkan berbagi dengan kami jika si monyet kembali.

Jangan lupa kerja :)

10 Juli 2011

Ya Allah, Tahlilan Itu Menyebalkan

Ya Allah,

Tahukah Kamu apa yang paling menyebalkan dari tahlilan di sini?

Bukan bagaimana keluarga si mati dibebani secara ekonomi untuk menjamu para tetangga selama 7 hari. Bukan. Tradisi memberi berkat dalam kotak dan menjamu peserta tahlil itu memutar roda ekonomi. Penjual makanan dapat profit dan bisa memberi makan keluarganya. Sayang kan jika uang para pelayat hanya disimpan atau dibelanjakan untuk hal-hal yang belum tentu lebih bermanfaat. Lebih baik segera dihabiskan untuk menjamu para tetangga.

Bukan pula doa-doa keras yg repetitif. Sudah rahasia umum bahwa membuat Mu merespon doa sungguh sangatlah sulit. Maka itu kami merasa wajib mengulang dan mengeraskan doa semampu kami. Hanya soal waktu sebelum tradisi ini berevolusi. Tak lama lagi, tradisi ini akan melibatkan amplifier + speaker berkekuatan besar agar doa kami lebih menggelegar, agar singgasanamu di surga ikut tergetar. Tapi  bukan itu yang menyebalkan.

Ya Allah, yang menyebalkan itu rokok. Langsung setelah tahlilan, sambil ngemil dan ngobrol, hampir semua orang menyalakan merokok. Dari 30-an pemekik doa, paling banyak hanya 5 mahluk yang tidak merokok, dan saya salah satunya.

Ini sudah yang kesekian kali saya ikut tahlilan dan menimati jadi perokok pasif nan religius. Terpaksa.

Ya Allah, Kamu pasti ingat, fenomena ini mirip sekali dengan Adzan teramplifikasi yang membuat orang tak berkepentingan harus ikut kaget atau terbangun. Mirip juga dengan prilaku umat dalam bulan puasa yang membuat orang yang tak berkepentingan jadi ikut susah makan. Juga ketika penganut tafsir minoritas diancam-ancam / dianiaya agar patuh pada penganut tafsir mayoritas.

Tahukah Kamu apa miripnya? Disini, non perokok dipaksa menghisap asapnya perokok. Padahal tujuan saya ikut hanyalah untuk doa bersama. Sebuah usaha gotong royong untuk membujukMu agar memberi nasib yang lebih baik pada si mati.

Bisa saja saya pamit keluar (dari ruangan ataupun dari agamanya sekalian), tapi resikonya akan dicap manja, atau bisa juga dianggap kurang ajar tak tau etika, atau malah halal untuk ditumpahkan darahnya (dibantai).

Minoritas selalu ditindas. Mayoritas merasa selalu benar dan semena-mena.

Tapi tenang saja ya Allah, ini bukan doa kok, hanya curhat saja.

Silakan Kamu pikir sendiri apa yang sebaiknya Kamu lakukan, itupun kalau Kamu bisa. Kamu kan Maha Tahu dan Maha Bijak lagi Maha Kuasa. Aku tak sekonyol itu untuk terus memohon-mohon sementara Kamu cuma pura-pura tak mendengar, pura-pura tak bisa melakukan apa-apa hingga akhirnya kami sendiri yang harus mengarang alasan untuk membenarkan kecuekanMu.

Ya Allah, sekian dulu curhat kali ini.

Semoga Kamu tak hanya Maha Mendengar, tapi juga Maha Membaca.

Amin.



Gambar dari Annida, dicrop semena-mena.
Ditulis tak lama setelah mengisi malam minggu dengan tahlilan.