Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan

10 Oktober 2014

Sipil atau Militer, Ada Tapinya

"Dipimpin militer atau sipil?"
"Ya gimanapun pilih sipil lah! Kecuali kalau lawannya radikal Islam, baru gw pilih militer"

Masih begitu terus pendapat banyak orang di banyak forum.

Jadi wajar kalau militer selalu punya hubungan benci tapi cinta dengan kelompok radikal. Wajahnya kelihatan tak akur, tapi sering dicurigai ikut mendanai, membiarkan, atau diam-diam giat melestarikan.

"Usut siapa dibelakangnya, cari tahu siapa yang mendanai!" kata Ahok yang sepertinya yakin betul bahwa Polisi sebenarnya juga sudah tahu.

Mungkin benar, selama ini juga sudah tahu, tapi ya karena itu tadi. Terror dan kekacauan yang ditimbulkan kelompok radikal, memang menguntungkan militer.

Memang berat sekali, kalau kita harus menolak sesuatu yang sangat lezat dan menguntungkan kita. Pasti lebih berat dari menolak keperawanan.



21 Mei 2014

Musuh

Berbagai ketakutan atau keengganan yang terasa setiap kali ingin mengatakan atau melakukan yang benar itu sebabnya apa kalau bukan dalam rangka jualan? Takut dagangan ndak laku.

Yang dijual? Ya harga diri, untuk memuaskan lawan transaksi, demi dapat keuntungan berupa kenyamanan dan keamanan.





Waktu Pak Bos ngajak korup, tak berani bantah karena dapat mengancam keberlangsungan nafkah, mengganggu kelanjutan karir. Waktu Bu Ustajah berisik merem melek pake toa, juga takut protes, karena bisa dimarahi dan dibenci emak-emak sekampung. Waktu ada orang merokok dalam angkot, juga takut untuk memperingatkan, karena bisa mengancam citra kita sebagai jelata tolol yang saling nrimo dan bertoleransi.

Memang sejak kecil kita didoktrin untuk toleran, ramah, jadi bangsa yang ramah dan pengertian pada siapapun.Untuk selalu takut menyinggung perasaan orang. Saking kelewat ramahnya, di salah satu kampung saya di Balaraja sana, guru relijius yang meyodomi beberapa anak kecil cuma diusir, bukan dihukum. Mungkin takut menyinggung perasaan si tukang sodomi, tanpa memikirkan perasaan korban-korbannya :))




Nah, tadi saya baca entah di mana, Ahok kurang lebih bilang gini: "1000 orang teman masih kurang, 1 musuh sudah kebanyakan.... Itu faham para pedagang. Tapi kalau mau membersihkan sistem yang korup, tiap hari kita bisa menciptakan 1000 musuh."


Wah, bener juga ya. Dalam sistem yang busuk, mengusahakan kebenaran pasti mengancam nafkah orang yang hidupnya dari kebusukan. Lha kita saja sering rela jual harga diri demi kenyamanan dan keamanan, apalagi orang-orang yang kebahagiaan hidupnya bergantung pada lestarinya kebusukan? Jadi kalau situ orang bener ya ga usah manja atau sok njawani. Dapet musuh itu niscaya, nikmati aja.

21 Agustus 2013

Menyingkirkan Ahok Center

Beberapa hari yang lalu saya baca berita kasus Koh Ahok yg tersandung "Ahok Center". Tampak jelas berbagai pihak begitu cekatan memanfaatkan momentum untuk mengenyahkan relawan-relawan tsb.

Saya heran, apa urgensinya menyingkirkan para "relawan" tersebut? Bukankah bagi rakyat justru menguntungkan jika kinerja orang-orang dinas lebih terawasi, apalagi selama puluhan tahun ini pejabat DKI memang terkenal kurang jujur kan?

Sambil nongkrong mendengarkan gemericik air, tiba-tiba saya tercerahkan dan punya bahan untuk update blog.

Jadi gini masbro, mbaksis...